Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Wednesday, January 30, 2019

Tahukah Anda Dua Keutamaan Shalat Dhuha Ini?

Gambar: Orang sedang melakukan sujud.

Pancarona Islam - Salah satu amalan sunnah yang sering pula dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW adalah shalat Dhuha. Tapi, tahukah anda keutamaan dari shalat Dhuha? Berikut ini beberapa keutamaan dari shalat Dhuha, antara lain:

1. Dapat Menggantikan Kewajiban Sedekah Seluruh Persendian

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,


Artinya: "Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma'ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka'at." [1]

Sebagaimana yang diketahui, bahwa persendian yang ada pada seluruh tubuh berdasarkan hadits dan telah dibuktikan dalam dunia kesehatan, berjumlah 360 persendian. 'Aisyah ra. pernah menyebutkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

Artinya: "Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian." [2]

Hadits ini menjadi bukti selalu benarnya sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun sedekah dengan 360 persendian ini dapat digantikan dengan shalat Dhuha sebagaimana disebutkan pula dalam hadits berikut,


Artinya: "Dari Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah." Para sahabat pun mengatakan, "Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lantas mengatakan, "Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka'at." [3]

An Nawawi mengatakan, "Hadits dari Abu Dzar adalah dalil yang menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari shalat Dhuha dan menunjukkannya kedudukannya yang mulia. Dan shalat Dhuha bisa cukup dengan dua raka'at." [4]

Asy Syaukani mengatakan, "Hadits Abu Dzar dan hadits Buraidah menunjukkan keutamaan yang luar biasa dan kedudukan yang mulia dari Shalat Dhuha. Hal ini pula yang menunjukkan semakin disyari'atkannya shalat tersebut. Dua raka'at shalat Dhuha sudah mencukupi sedekah dengan 360 persendian. Jika memang demikian, sudah sepantasnya shalat ini dapat dikerjakan rutin dan terus menerus." [5]

2. Menjaga Diri dari Terjerumus dalam Dosa

Keutamaan shalat Dhuha lainnya disebutkan dalam hadits berikut,


Artinya: Dari Nu'aim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka'at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang." [6]

Penulis 'Aunul Ma'bud - Al 'Azhim Abadi - menyebutkan, "Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelamatkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu." [7]



Referensi:
[1] HR. Muslim no. 720.
[2] HR. Muslim no. 1007.
[3] HR. Ahmad, 5/354. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi.
[4] Syarh Muslim, An Nawawi, 5/234, Dar Ihya' At Turots, cetakan kedua, 1392.
[5] Nailul Author, Asy Syaukani, 3/77, Idaroh At Thob'ah Al Munirah.
[6] HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[7] 'Aunul Ma'bud, Muhammad Syamsul Haq Al Azhim Abadi, 4/118, Darul Kutub Al 'Ilmiyyah, cetakan kedua, tahun 1415 H.
Read More

Saturday, January 26, 2019

Tahukah Anda? 4 Cara Mendidik Anak dalam Islam Ini


Pancarona Islam - Pendidikan anak yang baik adalah pendidikan yang juga menanamkan pelajaran akhlaq baik secara kuat dan kokoh ke dalam jiwa anak. Jika anak sudah ditanamkan dengan akhlaq baik, maka ia akan mampu menolak syahwat jelek dan jiwanya tidak akan nyaman kecuali melakukan hal-hal yang baik. Untuk bisa menanamkan akhlaq baik diperlukan pula cara mendidik yang baik. Berikut ini empat cara mendidik anak dalam Islam, yang terbukti baik untuk anak, antara lain:

1. Mendidik dengan Kelembutan

Agar pendidikan dapat diterima anak, cara mendidiknya pun perlu dilakukan dengan kelembutan. Hal ini pun dilakukan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh sejumlah hadits dimana Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menggunakan kelembutan saat berinteraksi dengan orang lain, seperti berikut:

عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْج النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ رواه البخاري6024

Artinya: "Dari 'Aisyah, istri Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai beliau, berkata: Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala hal." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, 6024).

وروى مسلم (2592) عَنْ جَرِيرٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ( مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ ، يُحْرَمِ الْخَيْرَ

Artinya: "Muslim (2592) meriwayatkan dari Jarir bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Barangsiapa yang terhalangi dari kelembutan, maka dia akan terhalangi dari kebaikan'."

وعَنْ عَائِشَةَ ، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شيء إِلاَّ زَانَهُ ، وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شيء إِلاَّ شَانَهُ ) رواه مسلم (2594

Artinya: "Dari 'Aisyah, istri Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai beliau, berkata, 'Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya kelembutan, tidaklah berada pada sesuatu kecuali pasti menghiasinya, dan tidaklah kelembutan diambil dari sesuatu, pasti merusaknya'."

وعَنْ عَائِشَةَ : أَنَّهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًاأَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ. رواه الإمام أحمد في مسنده (24427) ، وصححه الألباني في ” صحيح الجامع الصغير ” رقم (303)

Artinya: "Dari 'Aisyah semoga Allah meridhai beliau bahwa dia berkata: Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Jika Allah 'azza wa jalla menginginkan kebaikan bagi anggota rumah tangga, Dia akan memasukkan kelembutan kepada mereka' (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (24427); yang dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami 'as-Shaghir (303)).


Di antara salah satu tabiat anak-anak pada umumnya, yang lebih mencintai orang tua yang lemah lembut kepada mereka, membantu mereka, dan yang memberikan perhatian kepada mereka. Sebisa mungkin, pendidikan anak dilakukan tanpa teriak dan amarah.

Pendidikan haruslah penuh dengan hikmah dan kesabaran. Sebab anak usia dini sejatinya membutuhkan hiburan dan permainan. Selain itu, usia dini juga merupakan usia yang tepat untuk menanamkan adab-adab dan pendidikan bagi anak. Oleh karena itulah, sebagai orang tua, anda harus mampu menyeimbangkan antara keduanya.

Saat anak-anak mencintai orang tua yang penuh kelembutan, maka cintanya ini akan memotivasi mereka untuk menaati orang tuanya. Sebaliknya, orang tua yang tidak memiliki kelembutan dan mengandalkan kekerasan, justru akan menyebabkan anak menjauh dari orang tua. Alhasil, anak akan lebih keras kepala dan tidak taat. Atau bisa jadi anak anda justru merasakan ketakutan, yang nantinya akan menumbuhkan sifat dusta dan tipu daya dalam diri anak. Anak akan lebih sering berdusta dan berbohong kepada orang tua.

2. Mendidik dengan Kelembutan Tidak Berarti Meniadakan Hukuman di Saat yang Diperlukan

Hal yang perlu diperhatikan adalah hukuman yang diberikan saat membesarkan anak-anak ini haruslah digunakan dengan bijak. Tidaklah benar jika anak selalu dihukum atas setiap pelanggaran yang dilakukan. Hukuman diterapkan saat kelembutan tidak lagi berpengaruh, dan ketika nasehat, perintah, dan larangan telah diabaikan.

Hukuman yang diberikan pun haruslah memberikan manfaat. Misalnya, anda memiliki masalah pada kebiasaan anak-anak anda, yang menghabiskan waktu lama di depan televisi hingga melupakan aktivitas yang lain, maka anda dapat membatasi program yang mereka tonton. Hukuman seperti itu bermanfaat dan tidak membahayakan secara umum serta bebas dari perkara mungkar.

Jika mereka melampaui waktu menonton televisi, anda bisa mengalihkan mereka dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya. Usahakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang melibatkan anda, sebagai orang tua. Misalnya, memancing ikan bersama atau bermain sebuah permainan yang mengasah keterampilan anak anda.

3. Mendidik Anak dengan Memberikan Contoh Baik

Agar anak bisa memahami pendidikan akhlaq yang diberikan, seharusnya orang tua juga memiliki akhlaq yang baik terlebih dahulu. Hal ini akan memberikan contoh bagi anak.

Sebab hal pertama yang harus anda lakukan untuk mendidik keshalihan anak, adalah membuat diri anda menjadi shalih terlebih dahulu. Sebab anak-anak cenderung meniru perbuatan yang dilakukan oleh orang tua mereka. Oleh sebab itu, sebagai orang tua, sebaiknya mulai hari ini anda membiasakan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan jelek di hadapan anak anda.

4. Mendidik Anak dengan Menerapkan Lingkungan yang Baik

Lingkungan yang baik bagi anak adalah lingkungan yang memuji perbuatan baik dan menasehati setiap perbuatan buruk. Lingkungan seperti ini terbilang jarang anda temui. Oleh sebab itu, diperlukan usaha keras guna membentuk lingkungan yang seperti ini, sekurang-kurangnya pada lingkungan keluarga anda.

Sebagaimana yang telah banyak orang ketahui, bahwa anak juga cenderung meniru perbuatan dari interaksi orang-orang di sekitarnya. Jadi, ciptakanlah interaksi yang baik sehingga lingkungan yang ada pun cukup baik. Alhasil, anak akan lebih mudah memahami pendidikan yang diberikan.
Read More

Thursday, July 5, 2018

3 Manfaat Mempelajari Ilmu Asbabun Nuzul

via: www.islampos.com

Pancarona Islam - Sebenarnya, para ulama telah mengemukakan tentang manfaat atau faedah yang diperoleh saat anda mempelajari ilmu Asbab an-Nuzul. Salah satu ulama yang menerangkan hal itu adalah Ibnu Taimiyah. Beliau mengemukakan salah satu manfaatnya adalah dapat memahami makna ayat Al Qur'an lebih mendalam.

Sedangkan, menurut Syekh Muhammad Husain Ath-Thabathaba'i dalam kitabnya Al-Qur'an fi Al-Islam, mempelajari ilmu-ilmu sebab turunnya ayat (Asbab An-Nuzul) itu bisa mempermudah seseorang dalam mengetahui ayat dan memahami makna serta kandungan yang ada di dalam Al Qur'an, serta rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya.

Menurut Ibnu Abbas ra, salah seorang sahabat dan mufasir hebat awal permulaan Islam, mengemukakan bahwa sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al Qur'an itu memudahkan seseorang dalam menelusuri riwayat peristiwa dan sejarah terdahulu yang terjadi di zaman Rasul SAW.

Dari beberapa pendapat para ulama di atas, dapat dirangkum beberapa manfaat atau faedah dari mempelajari Asbab an-Nuzul, antara lain :

1. Memudahkan Pemahaman Ayat

Mempelajari sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al Qur'an dapat membantu seseorang dalam memahami kandungan ayat lebih mendalam.

2. Memudahkan Pemahaman Hukum Pada Ayat

Mempelajari sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al Qur'an juga dapat memberikan pemahaman yang tepat bahwa hukum yang dibawa oleh ayat itu adalah khusus untuk memberi penyelesaian peristiwa atau pertanyaan yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut.

3. Memudahkan Penghafalan Ayat

Mempelajari sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al Qur'an ternyata dapat membantu memudahkan penghafalan dan pemahaman ayat-ayat. Selain itu, juga dapat melekatkan ayat-ayat yang bersangkutan dalam hati orang-orang yang mendengarnya, bila ayat-ayat itu dibacakan.


Itulah beberapa manfaat yang bisa anda dapatkan ketika anda mempelajari sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al Qur'an. Mari kita membiasakan diri untuk mempelajarinya mulai saat ini.

Terima kasih sudah mau membaca artikel ini! Mari saling mengingatkan dalam hal kebaikan, lewat kolom komentar di bawah.
Read More